h1

Yeongjo of Joseon – 2

19 Oktober 2010

Lukisan wajah Yeongjo ketika masih menjadi Pangeran Yeoning
(cocok ngga sih kalau misalnya diperankan oleh KNG hehehe…)

(Artikel Kang Myung-kwan, Profesor Classic Chinese Literature Universitas Nasional Pusan, diterjemahkan oleh JoongAng daily staff)

Selama pemerintahan Yeongjo, Raja yang paling lama memerintah sepanjang dinasti Joseon, sering terjadi bencana banjir dan topan badai.

Pada tahun ke-15 pemerintahan Yeongjo, 7 propinsi termasuk Haeju di propinsi Hwanghae (dimana Choi Suk Bin berasal) menderita banjir, menyebabkan 300 orang meninggal dan 600 rumah hilang tersapu banjir.

Pada tahun ke-17 pemerintahan Yeongjo, seluruh negeri dilanda banjir : di daerah Honam, 800 rumah hilang pada bulan Juli, 770 lebih rumah tersapu di bulan September. Di daerah Gwandong, sekitar 1000 rumah hanyut di bulan September. Setelah banjir, terjadi epidemi, membunuh sekitar 3.700 orang di daerah Gwanseo.

Pada tahun ke-28 pemerintahan Yeongjo, 33 orang meninggal karena tanah longsor yang disebabkan oleh banjir di daerah Gyeonggi pada bulan Juni dan 219 rumah tersapu habis.

Pada tahun ke-30 pemerintahan Yeongjo, 400 rumah hanyut di daerah Gwanseo pada bulan Juni.

Ini adalah statistik resmi yang ditemukan dalam catatan tertulis kala itu. Mengingat mungkin saja ada kerusakan yang tidak tercatat, kerusakan sebenarnya akibat banjir pasti jauh lebih besar.
Banjir biasanya terjadi di Korea antara bulan Juni dan September dari kalender bulan, atau Juli, Agustus, September dan Oktober di kalender matahari/masehi.

Annal of Yeongjo mencatat, satu hari di tahun ke-4 pemerintahan-nya, Yeongjo terbangun karena suara hujan di pagi hari dan ia berkata pada stafnya :
“Oh tidak! Kita telah mendapatkan banjir, kekeringan dan kelaparan selama 4 tahun karena kekurangan saya, dan tahun ini kita bahkan melalui pemberontakan yang tidak terduga karena satu pemberontak bernama Yi In Jwa. Bagaimana rakyat saya yang malang bisa menjalani hidup mereka dibawah kondisi sulit seperti ini? Ada pepatah lama, ‘Perang selalu diikuti dengan tahun kekeringan’ untungnya, kita tidak mengalami kelaparan selama dua tahun ini dan kita berharap akan panen besar tahun ini.
Namun saya masih merasa gugup karena, sementara musim panen sudah dekat sekali, tidak ada cara mengetahui apakah akan ada banjir atau kekeringan sebelum panen tiba. Tidak ada yang tahu apakah akan tiba-tiba hujan dan membanjiri ladang yang menanti dipanen. Ini karena kekurangan saya sehingga hal-hal mengerikan ini terjadi, saya gagal mendapatkan simpati langit. Bagaimana saya bisa mendapatkan simpati langit jika saya tidak introspeksi dan membuat usaha sendiri? Saya harus mulai merefleksikan diri saya.”

(The Annals of Yeongjo, tertanggal 27 Juli dari tahun ke-4 pemerintahan-nya, tahun 1728)

Yeongjo cemas kalau hujan akan menghancurkan panen dan memaksa rakyatnya kelaparan. Raja memerintahkan pejabat istana untuk mengurangi pajak untuk rakyat dan mengurangi jumlah makanan dalam menunya. Pengurangan variasi makanan yang dikonsumsi Raja adalah keputusan yang dibuat karena mencemaskan rakyatnya yang kelaparan.

Ketika ada topan dan banjir, Raja melakukan pelayanan religius untuk mereka yang meninggal, membebaskan rakyat dari kerja paksa dan mengurangi pajak. Ini sebenarnya adalah tradisi tapi kita bisa mendeteksi ketulusan dari apa yang dilakukan Yeongjo.

Suatu pagi, 25 tahun kemudian, sekitar tahun 1753, hujan yang terus menerus mengingatkan Yeongjo pada banjir selama tahun ke-4 pemerintahan-nya ketika ia mengurangi makan, “Oh! Banjir dan kekeringan benar-benar terjadi karena kekurangan saya. Saya sudah lebih tua dari saat itu, tapi bagaimana bisa belas kasihan saya untuk rakyat dan keinginan untuk bekerja keras untuk mereka jauh berkurang dibanding saat itu?”
(The Annals of Yeongjo, tertanggal 23 Juli, tahun ke-29 pemerintahan-nya, tahun 1753)

Yeongjo memerintahkan pengurangan jumlah makanan di meja makan-nya lagi.

Ini sesuai bab dalam prinsip politik “Analek Kong Hu Cu”
Ketika QiGong, satu dari murid Kong Hu Cu, bertanya pada gurunya, bagaimana cara memerintah rakyat.
Kong Hu Cu berkata, “Rakyat akan mengikuti jika ada kepercayaan, banyak makanan, dan pasukan yang besar.”

Ketika QiGong tanya lagi, diantara yang ketiga itu, mana yang bisa dihilangkan pertama kali?
Kong Hu Cu menjawab, pasukan.
Ketika ditanya mana yang bisa dihilangkan berikutnya, gurunya menjawab : itu bisa saja makanan. Dari dulu manusia itu makhluk fana. Tapi jika seorang pria tidak mendapatkan kepercayaan, dia tidak bisa menjadi pria sebenarnya.

Dengan kebajikannya, Yeongjo dengan rendah hati mengakui kekurangannya, itu bukti bahwa Yeongjo mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Betapa besarnya (hati) Yeongjo yang terbangun di pagi hari oleh suara hujan dan berkata kekurangan-nya adalah alasan banjir dan kekeringan.

Kita bisa melihat pendidikan Choi Suk Bin bahwa ia ingin Yi Geum atau Yeongjo menjadi pondasi dari rakyatnya dan jalan menuju Monarki yang hebat.

Dari drama Yi San, kita bisa melihat bagaimana Yeongjo menguasai keadaan, ia tahu harga komoditi di pasar jauh lebih baik dari pejabat resminya yang melapor padanya dan memberikan mereka hukuman ketika mereka tidak bisa memberikan jawaban padanya.

Makam Yeongjo, Wolleung :

Patung di sekitar makam Yeongjo

Makam Raja Yeongjo dan Ratu Jeongsun (istri ke-2nya yang dinikahi Yeongjo ketika ia berusia 66 tahun, sedangkan Jeongsun berusia 15 tahun.)

Yeongjo 1
Gyeongjong

Iklan

Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: